Jumat, 10 Mei 2013



PENDAHULUAN

Kita sering menghadapi fenomena yang sepertinya mutlak sebagai sebuah kebenaran dan menutup ruang untuk pengkajian ulang dengan pemahaman dan pemikiran yang kritis.  Di dalam Al-Qur’an, sebagai sebuah Kitab Wajib umat Islam sebagai  Pedoman dan Petunjuk, mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menggunakan akal fikiran yang terbuka, menyerap segala inspirasi dan fenomena serta mengurainya menjadi suatu ilmu pengetahuan dan pemahaman yang masuk akal, menjadikan kita orang cerdas dan bijak dan menghindarkan dari sekadar ikut-ikutan akan suatu perkara.  Pengetahuan yang diperoleh sebagai suatu karya fikiran adalah penyeimbang dan bagian yang memperkuat keimanan.  Keduanya, Ilmu dan Iman bukanlah bidang yang saling dan tidak akan pernah bertentangan.  Keduanya merupakan bagian yang saling menerangi dan mencerahkan, menyingkap tabir dari kebenaran yang selama ini tersembunyi atau disembunyikan. 

Kita diizinkan menggunakan fikiran untuk mengarungi Lautan Ilmu yang tertuang dalam  Semesta Raya ini.   Menjadikan semesta raya yang merupakan jagad besar sebagai uji analisis dan kebenaran setiap hal, bahkan untuk perkara yang selama ini kita yakini, menyimpulkannya sebagai suatu kebenaran ataukah hanya sekedar pembenaran.  Fenomena tolak belakang antara keduanya akan lebih bijak dipandang sebagai suatu proses yang sedang berjalan dan bukanlah suatu kesimpulan akhir, sebagai ruang terbuka untuk koreksi dan kaji ulang terhadap pemahaman dan kebenaran yang kita yakini.  Salah besar jika menyatakan keyakinan akan sesuatu sebagai sebuah kebenaran mutlak dengan mengabaikan sudut pandang ilmu pengetahuan atau sebaliknya menyatakan kesimpulan akhir dari proses ilmu pengetahuan sebagai kebenaran mutlak dengan mengabaikan kebenaran keyakinan.  Ruang terbuka  atas pemahaman dan keyakinan yang dipegang semestinya tetap ada, menghindari kita dari kesesatan dan keyakinan yang bodoh.

Ada satu  contoh yang bisa dijadikan diskusi disini. 
Setiap tahun umat Islam selalu memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj.  Sering atau bahkan selalu para pembicara menguraikan peristiwa tersebut dengan suatu riwayat bahwa Nabi kita Baginda Muhammad SAW melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha…. menerima perintah Shalat dari Allah.  Awalnya perintah Shalat tersebut diterima sekian (?) raka’at.  Setelah menerima perintah tersebut Nabi Kita Muhammad SAW turun ke lagit sekian (?) bertemu Nabi Allah Musa AS.  Dalam pertemuan tersebut terjadi dialog antara keduanya.  Singkat cerita  Nabi Musa AS berkata kepada Nabi Muhammad SAW, bahwa dengan jumlah raka’at shalat yang diperintahkan tersebut niscaya Umat Nabi Muhammad SAW tidak akan mampu mengerjakannya. Terus Anjuran Nabi Musa AS kepada Nabi Muhammad SAW untuk menegokan ulang jumlah raka’at tersebut, dan kalau tidak salah sampai beberapa kali, sampai akhirnya raka’at ditetapkan menjadi 17 raka’at dengan lima waktu shalat”. 

Ada yang aneh dengan Hadits Riwayat tersebut.  Dan sekian lama . mungkin sampai sekarang, riwayat ini terus saja dipakai di setiap peringatan Isra’ Mi’raj, tanpa ada satu kritisi  atau koreksi.  Tidakkah tergambar dalam  fikiran kita bahwa dalam riwayat tersebut terdapat beberapa pelecehan. Pelecehan terhadap Allah SWT  dan  Nabi Muhammad SAW.  Betapa riwayat ini menggambarkan Nabi Kita Muhammad SAW sebagai sosok yang bodoh, yang tidak tahu menahu tentang umatnya sampai harus minta nasihat Nabi Musa AS (yang digambarkan sebagai sosok yang lebih pintar dari Nabi Muhammad SAW).  Betapa riwayat ini menggambarkan bahwa Allah SWT- pun dianggap tidak memiliki kemampuan untuk mengukur kemampuan umat Nabi Muhammad SAW, sampai harus dinego-nego.  Dalam perjalanan ini kenapa Nabi Kita Muhammad SAW harus ketemu dengan Nabi Musa SAW.  Siapa Nabi Musa AS? Bukankah sebelum Nabi Muhammad SAW dalam urutan Nabi-Nabi ada Nabi Isa AS, kenapa Nabi kita tidak ketemu dengan beliau?  
Tidak beranikah kita menyatakan bahwa Hadits/Riwayat ini Palsu, karena mengandung unsur Fitnah.  Untuk lebih meng-koreksi riwayat ini lebih baik merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Isra’  ayat 1 dan  An-Najm ayat 1 sampai dengan 18.
Dalam ayat tersebut tidak ada satu kalimatpun yang menyebutkan tentang pertemuan Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa AS.  Jadi bagaimana bisa muncul cerita pertemuan antara ke dua Nabi tersebut.  Apa makna dan tujuan riwayat ini dibuat?  Masihkah kita ragu untuk membuang riwayat ini dan terus saja digunakan dalam dakwah disetiap Peringatan Isra’ Mi’raj.  Kekufuran apa yang akan ditimpakan kepada kita seandainya kita menentang Hadits Riwayat ini?
Belum lagi cerita-cerita lain  yang disebutkan  dalam peristiwa ini, seperti Nabi Kita Muhammad SAW dalam perjalanan tersebut menaiki sejenis kendaraan “buraq” yang digambarkan seperti kuda terbang berkepala perempuan. Buraq itu bukanlah nama wahana.  Kata Buraq artinya seperti kilat.
Belum lagi sebelum perjalanan tersebut Nabi Kita juga diceritakan dibedah dadanya untuk membersihkan hati dari segala kekotoran.   Bisakah seorang menjadi Nabi kalau di balik  dadanya masih ada kekotoran.  Bukankah Nabi itu adalah seseorang yang Suci.
Kita bersyukur dikaruniai Al-Qur’an sebagai Kitab Pedoman.  Banyak analisa dan uji kebenaran terhadapnya, yang memberikan kesimpulan yang  memantapkan kita untuk tetap teguh berpegang padanya.  Banyak hal-hal luar biasa yang dimuat dalam Al-Qur’an tentang Semesta Raya ini beserta komponen-komponennya,  melebihi dari apa yang pernah diungkap.  Jadi tidaklah berlebihan dengan pernyataan bahwa Al-Qur’an adalah “Buku Alam Semesta”. 

Al-Qur’an menguraikan segala tentang kehidupan Alam Semesta, yang secara garis besarnya dan umum digolongkan dalam bentuk hubungan; hubungan Makhluq dengan Allah sebagai Khaliq, hubungan Makhluq dengan Makhluq,  diamana sentral hubungan ini ada pada Manusia sebagai bagian Makhluq,  sehingga perluasan penggolongan hubungan tersebut dijabarkan segabai: hubungan manusia dengan khaliq, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya. Dijadikannya manusia sebagai sentral hubungan tidak lepas dari peranan ke-khalifah-an yang ditugaskan terhadapnya, tugas berat pengelolaan semesta di muka bumi ini yang dipercayakan kepadanya, sebagaimana maksud kata khalifah yang berarti “Pengganti atau Penerus” dan beberapa tafsir menyebutkan sebagai “Pemimpin”.

Kata Khaliq dan Makhluq yang biasa kita lihat dan dengar di dalam Al-Qur’an, kalau kita perhatikan terdiri dari penyusunan huruf-huruf yang sama, yaitu ‘kha / خ, lamل/ , qaf / ق’.   Kata Khaliq diartikan sebagai “Yang Menciptakan” dan Makhluq diartikan sebagai “Yang Diciptakan”.  Satu lagi kata dengan penyusunan huruf yang sama, yaitu “Akhlaq”, yang bisa diartikan sebagai “Penciptaan”. 

Selama ini kita mungkin memahami bahwa pengertian akhlaq umumnya berkenaan dengan etika atau perilaku moral.  Dengan melihat huruf penyusun dari kata akhlaq tersebut, mungkin sedikit membuka pemahaman dan wawasan bahwa makna kata Akhlaq itu mencakup dinamika yang luar biasa.  Ada ruang yang luar biasa besar yang disediakan Allah untuk manusia dalam memerankan fungsi kekhalifahannya.  Memiliki makna aktiv, dinamis dan kreatif  untuk mewujudkan dan menjalin pola hubungan yang dimaksud.  Menciptkan suatu yang baru dalam pola hubungan yang dimaksud bukanlah suatu yang dilarang, melainkan menganjurkan dan mengizinkan gagasan-gagasan kreatif dengan arah dan lingkup serta tuntunan yang benar.  Kita bisa lihat bagaimana tokoh-tokoh Islam  yang kita mampu menghasilkan karya-karya besar,seperti  Syeik Abdul Kadir jailani, Imam Ghazali, Rabi’ah Al Adawiyah, Ar-Rumi, Ibnu Ghazi, Ibnu Khaldun, dan lain-lain.

Semua yang digambarkan  di dalam Al-Qur’an memiliki pesan-pesan ilmu pengetahuan, fenomena yang bisa diuraikan dengan pembuktian dan kaidah  ilmiah.  Hanya saja terkadang dengan ruang kajian yang sempit, kita tidak sabar dan terlalu cepat membuat kesimpulan, sehingga gambaran tersebut seolah-olah sebagai peristiwa atau hal yang tidak masuk akal atau bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.   

.......bersambung